Surat Untuk Ayah
Surat Untuk Ayah
Surat untuknya, yang kini tengah senyum melihatku di surga. Surat yang
ku ukir dari hati, agar ia membaca. Surat yang kutulis di sini, hingga
mereka tahu seperti apa rasa rindu ini padanya. Surat untuk ayah...
Ku ingat yah...
Tentang bagaimana kau tunjukkanku cara mengikat tali sepatu, bagaimana
diriku yang selalu salah dan membuatmu lelah selalu. Tak peduli
bagaimana ku letih dan jenuh, guraumu membuatku paham arti sabar
menjalani segala sesuatu dengan tulus apapun itu.
Ku ingat yah...
Tentang bagaimana kau ajarkanku mengayuh sepeda, bagaimana aku yang
selalu goyah dan jatuh kan terluka. Tak peduli seperti apa ku menangis
dan bermanja, perhatianmu membuatku paham arti tertatih menuju bahagia
dan menjaga diri ketika kelak dewasa.
Ku ingat yah...
Ketika kau lukiskan perangai Muhammad kepadaku, yang membuat hati ini
selalu rindu. Ketika kau ajarkanku Iqra', yang membuat ucapan ini tak
pernah mengeluh. Ketika kau peluk aku, dan ku juga memelukmu.
Caramu berbeda yah...
Tak seperti ayah mereka itu, kau tuntun aku keras untuk mengenal si
lembut. Kau bimbing aku lantang menantang maut dan pantang berlutut, kau
tinggalkanku sendiri agar manja tak lama terpaut, kau tuntun aku kuat
hingga lemah pun takut.
Halusmu... Candamu... Tegasmu... Semua demi aku yang sampai kini masih tak berguna.
Hangatmu... Suaramu... Tegarmu... Segala demi aku yang hingga kini masih bermanja.
Ketika sedih menghampiriku dulu, kau pun perih menahan sembiluh.
Berjalan di antara hujan menahan dingin angin denganmu, apapun kau
lakukan demi senyum dan tawaku. Namun... Tak ada hal yang bisa ku
lakukan kini, selain do'a dan lantunan Qur'an untukmu dari hati.
Kaulah yang ketiga setelah ibu dalam suara Nabi Mulia, namun tanpa
tanganmu para Mujahid dan Syuhada takkan ada. Dari sosok seorang lelaki
kuat para Ayah'lah mereka tercipta, dan bagiku... Dari sosokmu aku lebih
mengenal dunia dan dengan wajahmu, aku melihat surga.
Ayahanda...
Ku sedih melihat ibu letih dan lemah, hatiku gerimis menatap pandangan
kosong ketika ibu menata gambarmu di atas meja, jiwaku pecah ketika ibu
mendoakanmu dengan air mata yang berjatuhan di atas sejadah.
Sampaikan juga pintaku ini pada Tuhan kita.
Allah Azza wa Jalla... Berikan padaku saja penyakit yang diderita
ibunda, jadikan aku tameng ia yang tercinta. Angkat segala pedih perih
di tubuhnya, ganti semua lelah dengan senyum ceria di wajah.
Teruntuk Ayahanda, nantikan kami di sana. Di tempat yang Allah telah
janjikan terhadap hambanya yang shaleh dan shaleha. Akan kusiapkan bekal
untukku menemukanmu di Jannah. Ayah, ana uhibbuka fillah.
Demi
Allah yang menciptakan rasa yang peka, air mataku tertumpah kala surat
untukmu ini tertera. Semoga ia menjadi pendamping do'a, betapa tak
sampai hati tanpamu dan menatap ibu yang kini terbaring lemah.
Di ambil dari Fanpage: Renungan dan Kisah Inspiratif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar